Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrohim

Assalamu'alaikum wr.wb. segala puji hanya untuk Alloh Robb semesta alam dan salam serta sholawat selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para mengikutnya hingga akhir zaman.

Alhamduluillah telah dibuka Blog Daulah Khilafatul Muslimin Wilayah Indonesia semoga ada manfaatnya untuk perjuangan menegakkan sistem Khilafah di muka Bumi ini.

Tentunya dalam awal pembuatan blog masih banyak kekurangan-kekurangannya, untuk itulah kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan dari para pengunjung blog ini dan semoga bermanfaat untuk semua.

Semoga Alloh meridhoi amal usaha kita semua . Aamin

Indonesia, 28 Safar 1432 H
Wassalamu'alaikum wr.wb.
ADMIN

Maklumat

Maklumat

..Telah Dipilih AmirDaulah KhilafatulMuslimin WilayahIndonesia

Senin, 31 Januari 2011

Profil Amir Daulah Khilafatul Muslimin


DA’I MUDA DARI WILAYAH TIMUR INDONESIA 

Lahir dari seorang bapak yang guru sekolah, Zulkifli Rahman kecil memang sudah terbiasa dengan dunia pendidikan, termasuk di dalamnya kebiasaan tinggal berpindah-pindah sebagaimana lazimnya keluarga guru sekolah lainnya yang sering berpindah tempat tugas dari kampung satu ke kampung lainnya.
Ust. Zul, demikian Ust. Zulkifli Rahman akrab dipanggil, adalah anak I (pertama) dari Bapak bernama Abdurrahman Al-Chatib (72) dan Ibu Syifa’ Baraja’ (56), beliau lahir pada 07 Sya’ban 1387/ 09 November 1967 di Sumbawa- NTB. Di “Pulau madu” ini pula beliau memulai jenjang pendidikan dasarnya (SD) pada tahun 1972 hingga 1978, kemudian beliau melanjutkan tingkat SLTP-nya di SMP 2 Mataram (Pulau Lombok) yang termasuk SMP favorit di NTB waktu itu (1978–1982), di sekolah negeri tersebut beliau harus duduk selama 4 tahun.

Pendidikan Agama dan pengalaman organisasi.


Ust. Zulkifli Rahman terlahir dan dibesarkan dari lingkungan keluarga yang taat dan peduli dengan pendidikan agama bagi anaknya. Begitu tamat dari pendidikan SLTP di Mataram, orang tuanya mengantar untuk menuntut ilmu di Kulliyatul Mu’allimin Islamiyah (KMI) Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Di sanalah pendidikan agama mulai didapatnya secara formal. Kebalikan dari masa SMP-nya yang tinggal kelas, masa pendidikan di KMI Pondok Gontor yang seharusnya ditempuh selama 6 tahun bisa diselesaikannya selama 4 tahun saja, “kebetulan ketika itu sedang dibuka eksperimen lompat kelas dan alhamdulillah saya bisa langsung naik dari kelas I ke kelas III kemudian langsung ke kelas V dan kelas VI” urai beliau tentang hal tersebut.
Selama di Pondok Gontor pula, Amir Khilafatul Muslimin Wilayah Nusa tenggara tersebut, pernah menjadi pengurus beberapa organisasi santri, di antaranya; pernah menjadi pengurus koperasi santri, bagian keamanan pondok bahkan pernah menjabat jadi sekretaris bagian ini, dalam Pramuka beliau juga pernah menjadi Pembina Gugus Depan (GUDEP), pernah bergelut dalam perguruan beladiri Tapak suci Putra Muhammadiyah, Karate dan beladiri Buthong Fai.
Sederet aktifitasnya dalam dunia pesantren tersebut memberikan beliau pengalaman yang bermanfaat untuk pengamalan ilmunya dalam lingkungan masyarakat dan lembaga pendidikan setelah itu.
Setamat dari Pondok Gontor 1987 beliau langsung menjadi tenaga pengajar di pondok pesantren Al-Ikhlas-Taliwang, Sumbawa Barat-NTB, yang merupakan salah satu Pondok yang didirikan oleh alumni senior beliau dari Pondok Gontor, KH. Zulkifli Muhadli (sekarang Bupati Sumbawa Barat). Di sana beliau mengajar Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Matematika dan lain sebagainya, hingga setahun kemudian tepatnya tahun 1987 hingga 1988 sempat merantau ke Lampung, kemudian kembali lagi ke kampung halaman dan mengajar di Pondok Al-Ikhlas tahun 1989.
Menikah hingga Kongres Mujahidin
Setelah lama malang melintang di dunia pendidikan baik itu mengajar, berda’wah di masyarakat dan terus belajar ke berbagai tempat dalam dan luar negeri, beliau-pun mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Ustz. Zakiyah Baraja’, salah seorang sepupunya yang merupakan anak dari adik ibu beliau Bapak Najib Baraja’ (sekarang Mas’ul Ummah Mataram), hari bersejarah tersebut tercatat rapi di memori beliau, yaitu; tanggal 20 Rabi’ul Awwal 1416/ 17 Agustus 1995. Dari pernikahan tersebut beliau “baru” dikaruniai 7 orang anak, 5 laki-laki dan 2 orang perempuan. Tentang jumlah anak beliau pernah mengungkapkannya di suatu ketika “Kalau orang pada umumnya tidak akan menolak kalau dikasih Allah rezeki harta sebanyak-banyaknya, maka kenapa harus menolak dikasih banyak anak kalau itu diyakini sebagai rezeki dari Allah juga?”
Tahun-tahun setelah pernikahannya, Ust. Zul terus aktif membina ummat dan membagi ilmu serta pengalamannya kepada binaannya, waktu itu beliau belum memiliki wadah yang kongkrit bagi da’wahnya, sampai-sampai masyarakat sekitar-pun pernah menyebut majelis ta’lim binaannya dengan Jama’ah Al-Hadid yang dinisbatkan kepada nama bengkel las yang beliau kelola sendiri.
Oleh karena itu ketika Maklumat Khilafatul Muslimin dikeluarkan pertama kali pada tahun 1997 beliau serta merta menyambut dan mulai menggalang kesatuan ummat di bawah sistim khilafah, khususnya bagi binaan beliau yang berada di Wilayah Nusa Tenggara, meskipun Khalifah, Ust. Abdul Qadir Hasan Baraja’ sendiri masih menjalani masa-masa akhir tahanan penjara sejak tahun 1980, hingga beliau resmi keluar pada awwal tahun 2000.
Merasa mendapat kesempatan menyuarakan persatuan ummat di bawa panji Khilafah, Ust. Zulkifli Rahman kemudian melibatkan diri secara langsung dalam penyelenggaraan Kongres Mujahidin Indonesia I di Jogjakarta tahun 2000. Beliau ikut memprakarsai dan ikut sebagai panitia dalam acara berskala nasional tersebut, salah satu alasannya menurut beliau adalah; karena dalam proposalnya kongres tersebut mencantumkan tujuannya mewujudkan Wihdatul Ummah Wal Imamah (Bersatunya ummat dalam satu kepemimpinan Islam) yaitu; khilafah. Namun karena kongres tersebut ternyata hanya membuahkan suatu organisasi yang berbentuk aliansi (tansiq) yang bernama Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) beliau kemudian menarik diri dan tidak mau lagi berkecimpung di dalamnya.
Pasca Kongres, Ust. Zulkifli Rahman kembali aktif menyuarakan khilafah kepada ummat Islam, sambil menyusun dan membina struktural jama’ah yang ada di Nusa tenggara. Selama beberapa tahun dari 1995 hingga 2003 beliau diamanahkan sebagai Koordinator dan Pembina untuk wilayah Nusa tenggara sebelum resmi terbentuknya struktural Wilayah yang membawahi tingkat Ummil Quro yang sudah ada 3 waktu itu, yaitu; Ummil Quro Sumbawa, Dompu dan Bima serta beberapa Mas’uliyat di bawah masing-masing Ummil Quro tersebut.
Tahun 2003, Khalifah/ Amirul Mukminin pun merestui ditingkatkannya status Koordinator Wilayah menjadi Keamiran Wilayah Nusa tenggara. Secara otomatis ummat-pun butuh seorang Amir untuk memimpin struktural tersebut. Setelah melalui berbagai proses dan pertimbangan, dengar pendapat, nasehat dari berbagai pihak dalam jama’ah, terutama para senior serta para “Ash-Shabbiquun-al awwaluun” Ust. Zulkifli Rahman secara aklamasi dipilh sebagai Amir wilayah Nusa Tenggara tahun 2003 dan terus-menerus hingga sekarang jabatan tersebut masih diamanahkan ummat kepadanya. (AHMAD M.S)
Nama Zulkifli Rahman
TTL Sumbawa, 07 Sya’ban 1387 / 09 November 1967
Pendidikan SD tahun 1972 hingga 1978 di Sumbawa
SLTP 1978–1982 di Mataram
SLTA 1982-1986 di Pondok Modern Gontor
Istri pertama : Zakiyah Baraja’ (28 tahun)
Anak-anak
1. Munirah Afiah, 25/11/1996,
2. Ammar Muh. Naji, 24/02/1998,
3. Athiyah Zulfa, 22/06/1999,
4. Ahsan shiddiqi, 09/10/2001,
5. Anas Faiq Qoswari, 15/06/2003
6. Khalis Yusron Akbar, 25/03/2005,
7. Abdul Halim Syakur, 10/04/2006.
8. Hafidz (2007)
9. Laki-laki (2009)
Istri kedua : Risma
Jabatan Amir Wilayah Nusa Tenggara, 2003-2010.
Terpilih menjadi Amir Daulah Khilafatul Muslimin pada tanggal 1 Muharam 1432 H/7 Desember 2010 M

7 komentar:

  1. Ad Daulatul Islamiyah Melayu
    Khilafah Islam Akhir Zaman

    Kami mengundang Kaum Mukminin-Mukminat
    Dari seluruh Dunia untuk bergabung bersama kami
    Menjadi Tentara Islam The Man from The East of Imam Mahdi
    as A New World Religion Bangsa Islam Akhir Zaman.

    Kami mengundang Anda Menjadi Bagian Bangsa Islam berdasar Aqidah Islam
    Bukan Menjadi bagian dari Bangsa-bangsa berdasarkan Daerah

    Kunjungi Undangan kami Kehadiran anda kami tunggu di
    di http://dimelayu.com.nu

    BalasHapus
  2. Saudari karena Iman, NurAin Salamah, kami minta sdri agar sudi kiranya mempelajari Maklumat kami diatas agar kita bisa jelas dalam menentukan sikap.

    Insya Allah apa yang sdri inginkan sudah kami laksanakan dan kami sudah resmi mengangkat Khalifah dari sebuah bangsa di gugusan kepulauan Melayu, Indonesia, Asy Syaikh Al Ustadz Abdul Qadir Hasan Baraja'.

    Semoga sdri dan teman-temannya bisa mempertimbangkan untuk segera bergabung bersama kami,

    Aamiin...!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saudara Ahmad
      Seandainya khilafatul muslimin ini bukan bagian dari NGO RI pasti saya akan menjadi tentaranya

      Jika anda mengerti ideologi negara , Niscaya anda akan tahu Tidak ada yang namanya MUSUH IDEOLOGI ITU dibiarkan tumbuh membesar seperti kelompok anda,
      jika anda musuh RI pasti kelompok anda ditumpas HABIS
      Renungkan ini jika anda memang Mujahid Islam.

      Hapus
  3. Alhamdulillah ternyata RI ga punya alasan untuk memusuhi khilafah,itulah da'wah yang rahmatan lil alaniin.kerena khilafah bukan da'wah propaganda untuk menaksakan kekuasaan, tapi kekuasaan akan diberi oleh Alloh jika kita beIman dan beAmal sholeh.buktinya madinah didapat dgn kesungguhan Nabi dan shahabat dgn da'wah yg damai dgn dikrmkan nya juru da'wah MuS'af bin umair RA.coba baca sejarah adakah dalilnya kalau wilayah n kekuasaan itu direbut dgn peperangan..?

    BalasHapus
  4. Maaf ada kesalahan dlm pengetikan, krna terburu buru.

    BalasHapus
  5. BUAT CHEERLEADER KHILMUS
    Saya perhatikan ada sejumlah kelompok yang hobinya mencaci-maki demokrasi karena dianggap sebagai “sistem liberal-sekuler” atau “produk kebudayaan Barat” yang “kapir-njepir”. Tetapi pada saat yang sama, mereka gemar “menggauli” atau “mengsetubuhi” demokrasi ini. Setidaknya ada tiga kelompok yang “membenci tapi merindu” demokrasi ini. Pertama, kelompok tidak tahu malu. Kedua, kelompok tidak tahu diri. Dan ketiga, kelompok yang tidak tahu sama sekali.
    Misalnya, para “cheerleaders” sistem politik-pemerintahan Khilafah yang, seperti Anda tahu, sangat antipati dengan demokrasi, tetapi setiap hari menikmati “buah demokrasi”. Demokrasilah yang membuat orang-orang bisa euforia meluapkan pikiran dan uneg-unegnya yang kadang-kadang sampai kebabalasan. Demokrasilah yang membuat orang bisa bebas membuat ormas, yang lucunya ada yang dipakai untuk menyerang demokrasi. Demokrasi pulalah yang membuat orang bisa berdemo seenak wudelnya sendiri—ada yang sambil foto-foto selfie, ada pula yang sambil kencing di balik pohon he he.
    Tanpa sistem demokrasi, semua itu mustahal terjadi. Apa yang “mereka” kini dengan bebas nikmati di Indonesia itu, tidak akan bisa dinikmati di negara manapun di dunia ini yang menggunakan sistem politik-pemerintahan non-demokrasi. Apapun namanya sistem politik-pemerintahan itu (kerajaan, kesultanan, keamiran, republik, dlsb). Apapun sumber sistem politik-pemerintahan itu (Komunisme, Islam, Konfusianisme, dlsb). Jika tidak mengadopsi sistem demokrasi, maka rakyat tidak memiliki ruang gerak leluasa untuk berekspresi baik berdemo maupun berormas.
    Maka, saya jamin, ormas-ormas berlabel Islam seperti FPI atau HTI dan saudara-saudaranya yang hobi demo massa, jika di negara-negara yang menerapkan sistem politik non-demokrasi (baik negara-negara Arab maupun bukan), maka mereka sudah “diberangus” sebelum lahir karena demonstrasi massa dipandang bisa mengganggu stabilitas sosial-politik-ekonomi negara.
    Hizbut Tahrir (HT) yang mengklaim mengusung “sistem politik” Islam, malah dilarang di negara-negara mayoritas Muslim, Arab maupun non-Arab. Bahkan di negara asalnya tempat HT lahir (yaitu Palestina) juga tidak laku dan mati. Lucunya HT malah tumbuh subur di negara-negara penganut sistem demokrasi (baik liberal maupun illiberal) seperti di Amerika, Inggris, Australia, termasuk Indonesia, yang selalu mereka “kopar-kapirkan” itu. Ajaibnya lagi, bukannya berterima kasih, para pedagang asongan sistem khilafah di Indonesia (baik yang elitnya maupun massanya) malah mencaci-maki negaranya sendiri yang telah menyuburkan mereka.
    Menurut Anda, kira-kira para tokoh, massa, maupun ormas yang antipati dengan demokrasi tapi rajin demo itu tergolong umat apa? Umat tidak tahu diri, tdak tahu malu, atau tidak tahu sama sekali?
    Apalagi seperti Khilmus Menurut Anda, kira-kira para tokoh, massa, maupun ormas yang antipati dengan demokrasi tapi juga tidak rajin demo itu tergolong umat apa? Umat tidak tahu diri, tdak tahu malu, atau tidak tahu sama sekali?
    EDISI MIKIR .............BAGI YANG PINTER ...TIDAK KEBLINGER

    BalasHapus
  6. Itu yang ngesahin khilafah siapa?kriteria buat amir apa aja ama udahkah terpenuhi?

    BalasHapus